![]() |
| Ilustrasi | foto ini merupakan produk AI/ Ist |
SITANGGANG.net
Membantu orang yang membutuhkan adalah merupakan hakikat yang ada dalam diri manusia. Seyogyanya, manusia sebagai ciptaan Tuhan memiliki misi untuk menjadi berkat bagi sesama.
Seperti mengutip Firman Tuhan dalam nats ayat Alkitab Amsal 19:17 menyebut, bahwa setiap orang yang berbuat baik kepada orang miskin akan mendapat upah langsung dari 'Sang Pencipta'.
"Siapa berbuat baik kepada orang miskin, ia meminjamkan kepada TUHAN, dan Ia akan membalas perbuatannya," demikian bunyi nats Alkitab itu yang dikutip media ini.
Mengasihi dan membantu bukan hanya melalui perkataan saja, tetapi melalui perbuatan nyata yang dilakukan dengan cara perbuatan dan dalam kebenaran.
Kendati demikian, perbuatan baik kepada sesama tidak selamanya bisa berjalan mulus. Terkadang, perbuatan baik bisa saja terhalang oleh oknum yang tidak suka akan perbuatan tersebut.
Alih-alih untuk mendapatkan pujian, kadang risiko perbuatan baik bisa saja mengancam diri bahkan keluarga.
Hal ini sudah menjadi peringatan dalam Alkitab. Dalam Alkitab jelas tertulis sebuah peringatan bahwa adanya sesuatu yang pasti jadi penghalang untuk orang-orang berbuat baik.
"Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya," begitu kata Amsal ayat 3:27.
Nats tersebut jelas mengklaim adanya upaya penyekatan terhadap sesuatu yang baik. Dan itu lumrah dalam dunia ini.
Lalu apa yang menjadi balasan kepada orang-orang yang menghambat kebaikan?
Dalam Alkitab tidak banyak disinggung soal hal tersebut, namun penekanan pembalasan hanya ada pada diriNya sebagai Penguasa di muka bumi ini.
Apapun itu, perbuatan baik yang dilakukan dengan hati yang tulus oleh karena kebenaran akan mendapat balasan dari Tuhan.
Jika perbuatan baik yang dilakukan menjadi kondisi intimidasi dari pihak yang merasa terganggu akan kebaikan itu, maka bukan hak kita untuk membalas.
Raja Daud sendiri berpesan dalam kitabnya, agar setiap orang tidak marah dan iri kepada orang yang berbuat jahat dan curang.
"Sebab mereka segera lisut seperti rumput dan layu seperti tumbuh-tumbuhan hijau. Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia," dikutip dari Mazmur 37:2-3.
Sementara untuk pembalasan, manusia tidak berhak melakukan pembalasan. Karena pembalasan adalah hak 'prerogatif' Tuhan sebagai Kepala dalam Tubuh Kristus.
"Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan," demikian nats Alkitab dalam Roma 12:19.

Posting Komentar