Wah, Wanita Ini Sukses Jadi Miliarder Dari Hasil Kopi

Jenny Zhiya Qian | reuters
SITANGGANG.net

Minum kopi sudah pasti menjadi kegemaran banyak orang. Minuman ini bahkan terkenal hingga ke seluruh dunia. Bukan hal aneh, jika tanaman kopi menjadi lahan bisnis bagi setiap orang untuk meraup keuntungan.

Bisni kopi ternyata bukan saja digeluti di Indonesia, negara luar seperti China juga ternyata telah banyak menggeluti bisnis ini. Bahkan, seorang wanita sukses menjalankan bisnis kopi hingga menjadi seorang Miliarder.

Jenny Zhiya Qian berhasil menjadi miliarder baru di China melalui bisnis kopi dengan nama Luckin Coffee. Qian berhasil menjadi miliarder hanya dalam kurun waktu kurang dari 20 bulan.

Status miliarder ini diraih ketika Luckin Coffee berhasil melakukan penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) di bursa saham Nasdaq, New York, Amerika Serikat.

Luckin Coffee, kedai kopi ini kabarnya akan menjadi pesaing kuat Starbucks. Sejak kemunculan pertamanya di Beijing, China, Minuman kopi ini telah mampu menarik perhatian investor kaya, Charles Zhengyao Lu.

Seperti mengutip dari merdeka yang melansir dari Forbes, pada ada awal perdagangan saham di AS pada pertengahan Mei, harga saham Luckin naik dari USD 17 menjadi USD 25,96 per lembarnya. Meningkatnya permintaan yang tinggi membuat kapitalisasi pasar Luckin Coffee ini bernilai mencapai USD 6 miliar.

Sebagai pendiri, Qian memiliki saham sebesar 17 persen. Untuk itu, wanita yang meraih gelar MBA dari Universitas Peking ini mendapatkan USD 1 miliar atau sekitar Rp 14,25 triliun (asumsi kurs Rp 14.257 per dolar AS) hanya dalam hitungan menit sebelum kembali turun lagi.

Pada akhir transaksi itu, Qian telah berhasil mempertahankan kekayaan di kisaran USD 800 juta atau sekitar Rp 11,4 triliun.

Sebelum menjadi seorang pendiri dan CEO, Qian pernah bekerja sebagai CEO di perusahaan rental mobil Lu, Car Inc. Setelah berhasil mengumpulkan uang USD 150 juta dari sana, ia akhirnya membuat Luckin Coffee pada Oktober 2017.

Kedai kopi ini memiliki gaya yang minimalis dan berada di lokasi yang begitu strategis di antara gedung perkantoran dan kampus. Bukan itu saja, pembelian kopi di Luckin Coffee kopi juga dapat dilakukan melalui aplikasi dan menariknya, waktu pengirimannya tidak lebih dari 18 menit.

Sementara dari sisi harganya, kopi di sini cukup murah jika dibandingkan harga kopi di Starbucks. Hal ini lah yang membuat kedai kopi ini selalu ramai oleh pembeli. Pada awal tahun ini, Luckin Coffee sudah berhasil menyajikan 90 juta cangkir kopi. dan pada Maret kedai kopi telah menyebar kedainya di 2.400 titik.

Rencananya, Qian menambahkan cabang kedai kopi ini hingga mencapai 4.500 kedai pada akhir tahun 2019. Angka ini bahkan mengalahkan jumlah kedai Starbucks yang ada di China.

Starbucks memulai membuka cabangnya di Beijing pada 1999 dan hingga saat ini telah memiliki cabang di 3.600 titik di China. Meskipun berencana akan menambahkan 600 cabang lagi hingga tahun 2022 tentunya angka ini masih terkalahkan oleh Luckin Coffee.

Ekspansi agresif yang dilakukan oleh Luckin Coffee tentunya harus dibayar dengan uang yang begitu besar. Maka tidak heran, pada 2018 kedai kopi ini menelan kerugian hingga USD 241,3 juta dengan pendapatan USD 125,3 juta.

Hal ini masih berlangsung hingga saat ini, di quartal pertama 2019 kedai ini menelan kerugian mencapai USD 82,2 juta dengan pendapatan USD 71,3 juta menurut data Xiamen.

Sejauh ini, Qian membiayai kedai kopi miliknya ini dengan menggunakan sistem 'venture capital' yang berhasil mengumpulkan dana lebih dari USD 700 juta dalam pendanaan swasta sebelum kedai ini kembali ke publik, menurut PitchBook Data.

IPO pada Mei yang telah membuat kedai kopi ini mengumpulkan uang sebesar USD 560 juta hanya akan memberikan lebih banyak amunisi. Pasalnya, perusahaan ini harus terus berupaya agar menjadi kedai kopi terkuat di negara asalnya. (mdk/S)

Loading...
Share on Google Plus

Tentang Marcopolo Sitanggang

Sitanggang merupakan Situs Berita Online seputar Tapanuli dan sekitarnya yang menyuguhkan informasi dengan gaya tersendiri
    Komentar